Rabu, 26 Desember 2012

Candida albicans versi iski


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tumbuhan sekulen sering digunakan sebagai tanaman hias ruangan. Menurut Brickell (1996), tumbuhan sekulen adalah tumbuhan yang mampu beradaptasi terhadap kondisi yang ekstrim, khususnya periode kekeringan. Salah satu karakteristik yang dimiliki tumbuhan sekulen adalah kemampuannya untuk menyimpan air dalam organnya. Salah satu dari tumbuhan sekulen tersebut, yaitu tumbuhan kaktus. ( I Dewa Putu Darma & Siti Fatimah Hanum.2009)
Kaktus (Mammillaria myriacantha) sendiri merupakan tanaman holtikultura yang berasal dari benua Amerika yang tumbuh di daerah yang kering dan tandus. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman hias yang banyak digemari masyarakat karena penampilannya yang unik dan khas. Terdapat lebih dari 2000 jenis kaktus yang ada di belahan bumi dan dari ratusan marga, kaktus dikelompokkan menjadi tiga suku, yaitu : Preskioidea, Opuntodeae dan Cereoidea. (Mardhiah Hayati.2009)
Penelitian sebelumnya kaktus merupakan tanaman yang bersifat karsinogenik, namun dengan semakin bertambahnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi menemukan bahwa tidak semua kaktus bersifat karsinogenik. Ada beberapa jenis kaktus yang dapat dijadikan sebagai bahan makanan yang dapat diolah mulai dari sup, selai, saus, dan keju. Salah satu dari jenis kaktus yang dapat diolah yaitu kaktus dari Kaktus Pir Berduri (Opuntia fucus indica) yang sudah banyak dikonsumsi penduduk asli suku India dan Meksiko. Selain itu, kaktus pir berduri mengandung pigmen betalain yang berpotensi baik sebagai pewarna alami makanan. (Sarbojeet Jana.2012)
Selain berfungsi sebagai bahan makanan yang dapat diolah, ternyata kaktus ini juga mengandung zat aktif yang mampu mengubah reaksi tubuh terhadap allergen. Universitas Arizona meneliti kandungan pectin yang terdapat dalam buah kaktus efektif dalam penurunan tingkat kolestrol LDL dan juga membantu tubuh dalam menstabilkan kadar glukosa darah. Selain itu, publikasi terakhir Journal Of Ethnopharmacology and Diabetes Care menjelaskan bahwa pada bagian pipih kaktus tersebut sangat efektif terhadap diabetes tipe II. (Manpreet kaur, Amandeep kaur, Ramica sarma.2012)
Gel kaktus pir buah mengandung zat aktif yang berguna untuk mengubah reaksi tubuh terhadap allergen. Kandungan zat aktif yang terdapat pada kaktus tersebut, yaitu berupa flavonoid yang terkenal sebagai zat antioksidan dalam tubuh. Dalam studi analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa terdapat unsur pokok berupa antioksidan pada kaktus tersebut. Hal ini juga diperkuat dengan dilakukannya uji kapasitas antioksidan pada tiga jenis kaktus pir buah yang brasal dari Spanyol (Opuntia ficus indica, Opuntia undulate, dan opuntia stricta) yang dilakuan secara in vitro. Ekstrak kaktus pir buah tersebut dianalisis untuk menentukan kandungan – kandungannya : ascobic acid, flavonoids, (quercetin, isorhamnetin, myricetin, kaemferol, dan luteolin), betalains, taurine, total carotenoids, dan total phenolics. Pada hasil analisis tersebut, didapatkan informasi adanya senyawa bioaktif dan unsur antioksidan pada ketiga sampel tersebut. Opuntia ficus indica memiliki tingkat antioksidan dan unsur taurine yang tinggi. (Fernandez Loperz JA, Almela L, Obon JM, Castellar R.2010)
Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat oksidasi molekul lain. Tubuh tidak memiliki sistem pertahanan antioksidatif yang berlebihan, sehingga jika terjadi paparan radikal berlebih, tubuh membutuhkan antioksidan eksogen. Flavonoid merupakan senyawa antioksidan metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman hijau kecualli alga. Flavonoid merupakan senyawa phenolik  alam yang potensial sebagai antioksidan dan mempunyai bioaktivitas sebagai obat. Senyawa – senyawa ini dapat kita temukan pada batang, daun, bunga, dan buah. Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidsan sehingga sangat baik untuk pencegah kanker. Manfaat flavonoid  adalah untuk melindungi struktur sel, meningkatkan efektifitas vitamin C, anti inflamasi, mencegah keropos tulang dan sebagai antibiotik. Pada semua penelitian juga memperlihatkan kandungan aktivitas phenol sebagai antimikrobial terutama pada bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermis dengan MBC (minimal bactericide concentration) sebesar 1,3 mg phenolics/ml. Pada penelitian selanjutnya, University of Soutsh Florida juga menemukan bahwa getah pada kaktus mampu menyaring E.coli. (Karima Dhaouadi dkk.2012. Harleen kaur sandhar dkk.2011)

Candida albicans adalah suatu ragi lonjong dan bertunas yang menghasilkan pseudomiselim baik dalam biakan maupun dalam jaringan dan eksudat. Ragi ini adalah anggota flora normal selaput mukosa, saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan genitalia wanita. (Muhammad Ilyas.2008)
Candida albicans merupakan fungi patogen opurtunistik yang paling sering menginfeksi rongga mulut. Fungi ini dapat ditemukan pada seluruh permukaan rongga mulut, yaitu lidah, pipi, mukosa palatal, plak gigi, karies gigi, flora subngingival, dan juga pada gigi tiruan. Epidemi AIDS dan terapi antikanker yang progresif mempunyai kontribusi pada kenailkan jumlah pasien dengan kelainan imun yang parah. Hal ini mengakibatkan meningkatnya infeksi Candida albicans pada rongga mulut maupun secara sistemik. (Sri Larnani.2005)
Keberadaan Candida albicans dalam rongga mulut tidak selalu mengindikasikan terjadinya penyakit. Pada beberapa individu, Candida albicans merupakan komponen minor dari rongga mulut dan tidak menunjukkan symptom klinis. Kolonisasi Candida albicans dalam rongga mulut melibatkan adanya penambahan dan pemeliharaan populasi fungi yang stabil. Mikroorganisme secara rutin dibersihkan dari rongga mulut melalui mekanisme pembersihan host, sehingga untuk dapat bertahan hidup dalam ekosistem ini Candida albicans mempunya beberapa tempat untuk kolonisasi Candida albicans sehingga fungi dapat beradhesi pada kebanyakan ligand. (Sri Larnani.2005)
Candida albicans selain bersifat flora normal ,juga bersifat patogen. Candida bersifat oporturnistik karena dapat berkembang menjadi patogen dan menyebabkan infeksi bila terjadi perubahan pada individu (host) yang memungkinkan untuk pertumbuhannya. Berdasarkan data yang ada, perevalensi Candida pada orang dewasa adalah 3-48%, sedangkan pada anak – anak 45-46%. (Ali Yusran.2009)
Sebagai langkah nyata dalam mewujudkan masyarakat sehat khususnya dalam mengatasi penyakit – penyakit rongga mulut yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri Candida albicans maka upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut masyarakat  perlu lebih digalakkan lagi serta melakukan penelitian dalam menggali potensi bahan alam. Kaktus pir berduri merupakan tanaman obat yang mudah dikembangkan dan dimanfaatkan secara luas.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka timbul suatu, yaitu :
1.                          Bagaimana daya hambat ekstrak kaktus pir berduri terhadap pertumbuhan Candida albicans.
2.                          Pada konsentrasi berapa ekstrak buah kaktus dapat menghambat pertumbuhan bakteri Candida albicans.

1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini antara lain :
1.      Untuk mengetahui daya hambat pada ekstrak kaktus pir berduri terhadap pertumbuhan Candida albicans
2.      Untuk mengetahui konsentrasi yang dibutuhkan atau sesuai dalam menghambat pertumbuhan  Candida albicans

1.4  Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini dapat diketahui daya hambat pada daun lidah buaya dan buah jeruk nipis terhadap pertumbuhan Candida albicans, maka diharapkan:
1.      Secara umum agar ekstra kaktus pir berduri lebih dikembangkan lagi penggunaanya oleh masyarakat mengingaat berbagai manfaat dan khasiat dalam mengobati berbagai macam penyakit dan juga sebagai bahan makanan.
2.      Secara khusus agar ekstra kaktus dapat menjadi obat alternative sebagai antibacterial Candida albicans dalam bidang kedokteran gigi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar