BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Tumbuhan sekulen sering digunakan sebagai tanaman hias
ruangan. Menurut Brickell (1996), tumbuhan sekulen adalah tumbuhan yang mampu
beradaptasi terhadap kondisi yang ekstrim, khususnya periode kekeringan. Salah
satu karakteristik yang dimiliki tumbuhan sekulen adalah kemampuannya untuk
menyimpan air dalam organnya. Salah satu dari tumbuhan sekulen tersebut, yaitu
tumbuhan kaktus. ( I Dewa Putu Darma
& Siti Fatimah Hanum.2009)
Kaktus (Mammillaria
myriacantha) sendiri merupakan tanaman holtikultura yang berasal dari benua
Amerika yang tumbuh di daerah yang kering dan tandus. Tanaman ini merupakan
salah satu tanaman hias yang banyak digemari masyarakat karena penampilannya
yang unik dan khas. Terdapat lebih dari 2000 jenis kaktus yang ada di belahan
bumi dan dari ratusan marga, kaktus dikelompokkan menjadi tiga suku, yaitu : Preskioidea, Opuntodeae dan Cereoidea. (Mardhiah Hayati.2009)
Penelitian sebelumnya kaktus merupakan tanaman yang
bersifat karsinogenik, namun dengan semakin bertambahnya ilmu pengetahuan dan
tekhnologi menemukan bahwa tidak semua kaktus bersifat karsinogenik. Ada
beberapa jenis kaktus yang dapat dijadikan sebagai bahan makanan yang dapat
diolah mulai dari sup, selai, saus, dan keju. Salah satu dari jenis kaktus yang
dapat diolah yaitu kaktus dari Kaktus Pir Berduri (Opuntia fucus indica) yang sudah banyak dikonsumsi penduduk asli
suku India dan Meksiko. Selain itu, kaktus pir berduri mengandung pigmen
betalain yang berpotensi baik sebagai pewarna alami makanan. (Sarbojeet Jana.2012)
Selain berfungsi sebagai bahan makanan yang dapat diolah,
ternyata kaktus ini juga mengandung zat aktif yang mampu mengubah reaksi tubuh
terhadap allergen. Universitas Arizona meneliti kandungan pectin yang terdapat
dalam buah kaktus efektif dalam penurunan tingkat kolestrol LDL dan juga
membantu tubuh dalam menstabilkan kadar glukosa darah. Selain itu, publikasi
terakhir Journal Of Ethnopharmacology and Diabetes Care menjelaskan bahwa pada
bagian pipih kaktus tersebut sangat efektif terhadap diabetes tipe II. (Manpreet kaur, Amandeep kaur, Ramica
sarma.2012)
Gel kaktus pir buah mengandung zat aktif yang berguna
untuk mengubah reaksi tubuh terhadap allergen. Kandungan zat aktif yang
terdapat pada kaktus tersebut, yaitu berupa flavonoid yang terkenal sebagai zat
antioksidan dalam tubuh. Dalam studi analisis yang telah dilakukan diperoleh
hasil bahwa terdapat unsur pokok berupa antioksidan pada kaktus tersebut. Hal
ini juga diperkuat dengan dilakukannya uji kapasitas antioksidan pada tiga
jenis kaktus pir buah yang brasal dari Spanyol (Opuntia ficus indica, Opuntia undulate, dan opuntia stricta) yang dilakuan secara in vitro. Ekstrak kaktus pir
buah tersebut dianalisis untuk menentukan kandungan – kandungannya : ascobic
acid, flavonoids, (quercetin, isorhamnetin, myricetin, kaemferol, dan
luteolin), betalains, taurine, total carotenoids, dan total phenolics. Pada hasil
analisis tersebut, didapatkan informasi adanya senyawa bioaktif dan unsur
antioksidan pada ketiga sampel tersebut. Opuntia
ficus indica memiliki tingkat antioksidan dan unsur taurine yang tinggi. (Fernandez Loperz JA, Almela L, Obon JM,
Castellar R.2010)
Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat
oksidasi molekul lain. Tubuh tidak memiliki sistem pertahanan antioksidatif
yang berlebihan, sehingga jika terjadi paparan radikal berlebih, tubuh
membutuhkan antioksidan eksogen. Flavonoid merupakan senyawa antioksidan
metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman hijau kecualli alga. Flavonoid
merupakan senyawa phenolik alam yang
potensial sebagai antioksidan dan mempunyai bioaktivitas sebagai obat. Senyawa
– senyawa ini dapat kita temukan pada batang, daun, bunga, dan buah. Flavonoid
dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidsan sehingga sangat baik untuk
pencegah kanker. Manfaat flavonoid adalah untuk melindungi struktur sel,
meningkatkan efektifitas vitamin C, anti inflamasi, mencegah keropos tulang dan
sebagai antibiotik. Pada semua penelitian juga memperlihatkan kandungan
aktivitas phenol sebagai antimikrobial terutama pada bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermis dengan MBC
(minimal bactericide concentration) sebesar 1,3 mg phenolics/ml. Pada
penelitian selanjutnya, University of Soutsh Florida juga menemukan bahwa getah
pada kaktus mampu menyaring E.coli. (Karima
Dhaouadi dkk.2012. Harleen kaur sandhar dkk.2011)
Candida albicans adalah suatu ragi lonjong dan bertunas yang menghasilkan pseudomiselim baik dalam
biakan maupun dalam jaringan dan eksudat. Ragi ini adalah anggota flora normal selaput
mukosa, saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan genitalia wanita. (Muhammad Ilyas.2008)
Candida albicans merupakan fungi patogen opurtunistik yang
paling sering menginfeksi rongga mulut. Fungi ini dapat ditemukan pada seluruh
permukaan rongga mulut, yaitu lidah, pipi, mukosa palatal, plak gigi, karies
gigi, flora subngingival, dan juga pada gigi tiruan. Epidemi AIDS dan terapi
antikanker yang progresif mempunyai kontribusi pada kenailkan jumlah pasien
dengan kelainan imun yang parah. Hal ini mengakibatkan meningkatnya infeksi Candida albicans pada rongga mulut
maupun secara sistemik. (Sri Larnani.2005)
Keberadaan Candida
albicans dalam rongga mulut tidak selalu mengindikasikan terjadinya
penyakit. Pada beberapa individu, Candida albicans merupakan komponen
minor dari rongga mulut dan tidak menunjukkan symptom klinis. Kolonisasi Candida
albicans dalam rongga mulut melibatkan adanya penambahan dan pemeliharaan
populasi fungi yang stabil. Mikroorganisme secara rutin dibersihkan dari rongga
mulut melalui mekanisme pembersihan host, sehingga untuk dapat bertahan
hidup dalam ekosistem ini Candida albicans mempunya beberapa tempat
untuk kolonisasi Candida albicans sehingga fungi dapat beradhesi pada
kebanyakan ligand. (Sri Larnani.2005)
Candida albicans selain bersifat
flora normal ,juga bersifat patogen. Candida bersifat oporturnistik karena
dapat berkembang menjadi patogen dan menyebabkan infeksi bila terjadi perubahan
pada individu (host) yang memungkinkan untuk pertumbuhannya. Berdasarkan data
yang ada, perevalensi Candida pada orang dewasa adalah 3-48%, sedangkan pada
anak – anak 45-46%. (Ali Yusran.2009)
Sebagai langkah nyata dalam
mewujudkan masyarakat sehat khususnya dalam mengatasi penyakit – penyakit
rongga mulut yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri Candida albicans maka upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut
masyarakat perlu lebih digalakkan lagi
serta melakukan penelitian dalam menggali potensi bahan alam. Kaktus pir
berduri merupakan tanaman obat yang mudah dikembangkan dan dimanfaatkan secara
luas.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka timbul suatu,
yaitu :
1.
Bagaimana daya
hambat ekstrak kaktus pir berduri terhadap pertumbuhan Candida albicans.
2.
Pada konsentrasi berapa ekstrak buah kaktus
dapat menghambat pertumbuhan bakteri Candida albicans.
1.3
Tujuan
Penelitian
Tujuan dari penelitian ini antara lain :
1. Untuk mengetahui daya hambat pada ekstrak
kaktus pir berduri terhadap pertumbuhan Candida
albicans
2. Untuk mengetahui konsentrasi yang dibutuhkan
atau sesuai dalam menghambat pertumbuhan
Candida albicans
1.4
Manfaat
Penelitian
Dari
hasil penelitian ini dapat diketahui daya hambat pada daun lidah buaya dan buah
jeruk nipis terhadap pertumbuhan Candida albicans, maka diharapkan:
1.
Secara
umum agar ekstra kaktus pir berduri lebih dikembangkan lagi penggunaanya oleh
masyarakat mengingaat berbagai manfaat dan khasiat dalam mengobati berbagai
macam penyakit dan juga sebagai bahan makanan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar